Mimpi Buruk Bernama Putus Tendon Achilles: Nasib Hugo Ekitike dan Alasan Mengapa Cedera Ini Lebih Horor dari ACL

Dunia serasa runtuh bagi Hugo Ekitike. Striker andalan Liverpool itu harus menerima kenyataan pahit: musimnya berakhir lebih cepat dan mimpinya tampil di Piala Dunia 2026 pertama bersama Timnas Prancis resmi terkubur.

Penyebabnya? Cedera yang datang layaknya peluru seorang sniper alias penembak jitu: putusnya tendon Achilles. Insiden itu terjadi saat Liverpool bersua Paris Saint-Germain di leg kedua perempat final Liga Champions.

Tanpa ada benturan, Ekitike tersungkur saat mencoba mengubah arah lari. Ia sempat menoleh ke belakang, mengira ditendang bek lawan, namun kenyataannya: ia sendirian di sana. Tendonnya baru saja meledak.

Mantan gelandang Tottenham, Jamie O’Hara, menyebut robeknya Tendon Achilles telah melampaui ACL sebagai cedera paling ditakuti oleh pesepak bola.

“Dengan ACL, Anda merasa teknologi bedah saat ini bisa membuat Anda kembali normal. Tapi jika Achilles Anda putus, jalan kembalinya sangat panjang. Dan Anda akan menjadi pemain yang berbeda saat kembali nanti,” ujar O’Hara.

Alasan Cedera Tendon Achilles Sulit Ditangani
Lantas, apa yang membuat cedera ini begitu sulit ditangani? Menurut spesialis pencegahan cedera, Luke Anthony, kuncinya ada pada sifat mekanis tendon tersebut.

Achilles menghubungkan otot betis ke tulang tumit dan berfungsi sebagai “pegas” utama untuk akselerasi, melompat, dan mengubah arah.

Saat seorang atlet melakukan sprint, beban yang melewati tendon tersebut bisa mencapai 3-5 kali berat badan mereka, atau setara dengan beban ratusan kilogram.

 

Statistik yang Mengkhawatirkan
Data dari Pieter D’Hooghe, spesialis kaki dan pergelangan kaki terkemuka, menunjukkan fakta yang mencengangkan:

20 persen pemain sepak bola elite gagal kembali ke level performa sebelum cedera.
1 dari 5 pemain kehilangan potensi terbaiknya setelah pulih.
Di olahraga lain seperti rugby (25%) dan American Football (35%), angka kegagalannya bahkan lebih tinggi.
Bagi pemain sekelas Ekitike, operasi adalah jalur utama. Mengapa? Operasi menurunkan risiko putus kembali, mempercepat durasi kembali ke lapangan, dan yang terpenting: mengembalikan kekuatan.

Namun, operasi hanyalah 25 persen dari solusi. Sisanya, 75 persen adalah kerja keras di ruang rehabilitasi yang memakan waktu minimal 6-9 bulan.

Setidaknya ada tiga tahapan pemulihan dari cedera robeknya tendon achilles. Pertama fase imobilisasi di mana selama 6-12 pekan, kaki tidak boleh menapak, menggunakan sepatu pelindung khusus.

Kedua restorasi gerak: 3-5 bulan bakal menjalani latihan beban ringan, latihan di kolam renang. Ketiga fase ledak: enam bulan ke atas melakukan lompat kotak satu kaki, latihan rintangan, kembali ke lapangan.

Tantangan Mental: Menjadi Diri yang Lama
Dua eks pemain Chelsea, Callum Hudson-Odoi dan Ruben Loftus-Cheek, pernah merasakan penderitaan serupa. Mereka mengaku butuh waktu bertahun-tahun untuk merasa bertenaga lagi.

“Pemulihan saya memakan waktu lebih lama dan saya harus bersabar. Saya kembali dari cedera tetapi tidak merasa seperti diri saya sendiri, tidak merasa bertenaga, tidak bisa melewati orang lain dan merasa seperti kehilangan banyak otot dan kekuatan,” kenang Loftus-Cheek yang kini memperkuat AC Milan.

“Orang-orang tidak menyadari betapa sulitnya untuk mendapatkan kembali kebugaran, kecepatan, dan ketajaman yang sama,” kata Callum Hudson-Odoi kepada The Guardian dua tahun setelah ia mengalami cedera tendon Achilles pada April 2019.

“Cedera itu sangat menguras otot betis dan bagian tubuh lainnya. Anda tidak akan merasa sama seperti dulu. Saya rasa Anda tidak akan pernah sama seperti sebelumnya.”

“Saya memaksakan diri setiap hari untuk memastikan saya kembali tanpa cedera. Tapi cedera ringan memang terjadi, hal-hal seperti itu bisa terjadi,” ungkap Hudson-Odoi yang sekarang bermain untuk Nottingham Forest.

Kini, Hugo Ekitike memulai pendakian panjangnya. Dengan usia yang masih 23 tahun dan dukungan medis kelas dunia di Liverpool, peluangnya tetap ada.

Namun, seperti yang diperingatkan para ahli: pemulihan Achilles bukan soal mengikuti kalender, melainkan menghormati biologi tubuh.

You missed

Piala Presiden 2026: Igor Tolic Pastikan Mariano Peralta Absen Lawan Tampines Rovers, Ini Alasannya Winger anyar Persib Bandung, Mariano Peralta dipastikan belum akan menjalani debut di Piala Presiden 2026. Persib akan menjalani laga terakhir menghadapi Tampines Rovers FC pada laga lanjutan Grup A, Jumat (31/7/2026). Mariano Peralta sudah tiba di Bandung sejak Senin (27/7/2026) malam. Bahkan, pemain asal Argentina tersebut hadir langsung di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung menyaksikan duel Persib lawan DPMM FC, Brunai Darussalam, Selasa (28/7/2026) malam Meski sudah berada di Bandung, Peralta hingga kini belum mengikuti sesi latihan bersama rekan-rekannya di tim Maung Bandung. Kondisi itu membuat pelatih Persib, Igor Tolic memastikan eks pemain Borneo FC Samarinda tersebut belum siap untuk dimainkan saat menghadapi Tampines nanti. “Sepertinya dia tidak akan bermain karena baru tiba. Dengan perbedaan waktu sekitar 12 hingga 14 jam, mustahil dia siap bermain hanya dalam waktu tiga hari,” jelas Igor Tolic. Proses Adaptasi Pelatih Persib asal Kroasia ini menyebutkan Peralta akan lebih dulu menjalani proses adaptasi dan pemulihan kondisi fisiknya sebelum bergabung dalam latihan bersama tim. “Jadi, sudah pasti dia tidak akan bermain pada pertandingan berikutnya. Dia akan mulai bergabung dalam latihan ketika kondisinya sudah siap. Setelah itu kami akan mempersiapkannya secara bertahap,” kata Igor Tolic. Lebih lanjut, Tolic mengatakan bahwa tim pelatih tidak ingin terburu-buru memainkan pemain baru, apalagi baru tiba beberapa hari setelah melewati perjalanan panjang. Kondisi Fisik Menurutnya, menjaga kondisi fisik seluruh pemain menjadi prioritas sebab Maung Bandung akan menghadapi jadwal yang cukup padat. “Kami harus mempersiapkan mereka untuk menjalani musim yang sangat panjang. Ini benar-benar menjadi tantangan bagi kami,” imbuh Tolic. Dalam sembilan hari ke depan, Maung Bandung masih harus menjalani tiga pertandingan, termasuk kemungkinan tampil di Surabaya apabila lolos ke fase berikutnya di Piala Presiden 2026. “Saya sendiri tidak tahu apakah harus senang atau tidak, karena kami tahu bahwa kami masih harus memainkan tiga pertandingan lagi dalam sembilan hari,” ucap Tolic. “Mungkin kami harus ke Surabaya, atau mungkin tetap di sini, saya juga belum tahu,” pungkas Tolic.