UEFA Tak Lagi Percaya Gianni Infantino meski FIFA Batalkan Rencana Jual Piala Dunia
UEFA mengeluarkan pernyataan resmi setelah Presiden FIFA, Gianni Infantino, membatalkan rencana pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah proyek yang sebelumnya memicu kontroversi karena berkaitan dengan pengelolaan hak komersial turnamen-turnamen FIFA.
Sebelumnya, FIFA mengumumkan rencana untuk mengundang pihak ketiga membeli saham minoritas tanpa hak kendali di FFE, anak perusahaan baru yang akan menangani hak komersial seluruh turnamen FIFA pada masa mendatang.
Respons UEFA
Pada Kamis kemarin, UEFA menggelar rapat darurat yang dihadiri seluruh 55 asosiasi anggotanya. Dalam pertemuan tersebut, seluruh peserta secara bulat sepakat akan memboikot seluruh kompetisi FIFA apabila rencana itu disahkan.
Penolakan juga datang dari internal FIFA. Penasihat senior Gianni Infantino, Carlos Cordeiro, memilih mengundurkan diri setelah menyampaikan pernyataan keras terkait persoalan tersebut.
Sementara itu, Chief Operating Officer FIFA, Kevin Lamour, dikabarkan mengancam mundur dari jabatannya karena merasa telah dikelabui.
Pada Sabtu (1-8-2026), FIFA akhirnya mengumumkan tidak akan melanjutkan rencana tersebut. Keputusan itu disampaikan melalui siaran pers resmi yang memuat pernyataan atas nama Gianni Infantino.
UEFA kemudian merespons keputusan tersebut melalui pernyataan resmi di situsnya.
Dalam pernyataan itu, UEFA menyambut baik keputusan FIFA membatalkan rencana penjualan sebagian kepemilikan kompetisinya, termasuk Piala Dunia, kepada investor swasta.
UEFA menyebut proposal tersebut telah ditolak secara bulat oleh seluruh asosiasi nasional anggotanya, serta mendapat penolakan dari banyak federasi dan konfederasi sepak bola di berbagai belahan dunia yang memiliki tanggung jawab menjaga kepentingan olahraga tersebut.
Kritikan UEFA
Selain itu, UEFA menyampaikan apresiasi kepada suporter, liga, klub, pemain, individu, asosiasi, konfederasi, serta sejumlah perdana menteri, kepala negara, dan pengamat yang menentang proposal tersebut.
Menurut UEFA, mereka telah menunjukkan kepada Presiden FIFA bahwa sepak bola bukan untuk diperjualbelikan.
Dalam pernyataannya, UEFA juga mengkritik proses pengambilan keputusan yang dinilai berlangsung secara tertutup dan dipercepat, serta menyebut pihak-pihak yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban.
UEFA menyatakan akan bekerja sama dengan asosiasi-asosiasi anggotanya dan konfederasi lain dalam beberapa hari dan pekan mendatang untuk meninjau bagaimana situasi tersebut bisa terjadi sekaligus menyusun langkah agar hal serupa tidak terulang.
Menurut UEFA, evaluasi tersebut harus dilakukan secara menyeluruh dan mendasar, tanpa mengesampingkan opsi apa pun.
UEFA menegaskan, kepemimpinan FIFA saat ini bukan hanya telah kehilangan kepercayaan UEFA, tetapi juga banyak anggota lain dalam keluarga besar sepak bola.
Sasaran Kritik
Dalam artikel tersebut juga disebutkan bahwa UEFA pernah menjadi sasaran kritik terkait penanganan kasus European Super League.
Pada September 2021, UEFA menghentikan proses disipliner terhadap Barcelona, Juventus, dan Real Madrid yang terlibat dalam rencana kompetisi tandingan tersebut.
Ketiga klub itu merupakan bagian dari 12 pendiri European Super League yang kemudian gagal terlaksana setelah mendapat penolakan luas.
Saat itu, UEFA menyatakan proses disipliner tersebut batal demi hukum. Keputusan itu diambil setelah pengadilan di Madrid memutuskan UEFA tidak boleh menjatuhkan sanksi kepada ketiga klub tersebut. Hingga kini, hukuman terhadap mereka belum pernah dijatuhkan.
